Mungkinkah Duet Jokowi Prabowo?

Loading...

© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media

Presiden Republik Indonesia terpilih Joko Widodo mengunjungi Ketua Umum Partai Gerindra yang juga mantan pesaingnya dalam Pilpres lalu, Prabowo Subianto, di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Jumat (17/10/2014). Dalam pertemuan tersebut Jokowi bersilaturahmi dan mengundang Prabowo untuk menghadiri pelantikan Presiden Seni 20 Oktober mendatang.

TRIBUNNEWS / DANY PERMANA

Kabar bahwa Presiden Joko Widodo menawarkan posisi cawapres kepada Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, semakin kencang berembus.

Apalagi, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy mengeluarkan sejumlah pernyataan yang membenarkan tawaran itu.

Di sela Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama PPP, Romi, sapaan Romahurmuziy, pekan lalu, tanpa ditanya membeberkan upaya Jokowi "mendekati" Prabowo sejak November 2017.

Romi mengatakan, Jokowi telah dua kali bertemu Prabowo pada November 2017 untuk menjajaki posisi cawapres.

Menurut Romi, Prabowo mengapresiasi tawaran tersebut. Bahkan, Prabowo merespons positif tawaran tersebut dengan mengirimkan utusannya dua pekan lalu untuk menanyakan kepastian kepada Jokowi.

Namun, lanjut Romi, saat itu belum ada persetujuan dari lima ketua umum parpol pengusung Jokowi di Pilpres 2019. Romi mengaku, setuju dengan pilihan Jokowi itu.

Sementara itu, ketua umum parpol lainnya belum memberikan kepastian. 

Romi mengatakan, alasan Jokowi menggandeng Prabowo sebagai cawapres untuk meminimalisasi konflik saat Pemilu 2019. 

Dengan penyelenggaraan pemilu legislatif dan pilpres yang serentak, dikhawatirkan potensi konflik saat kampanye semakin besar. 

Hal itu berpotensi semakin menajamkan gesekan antara Jokowi dan Prabowo. 

Tanggapan Jokowi dan PDI-P

Saat menghadiri peringatan Harlah ke-45 PPP di UTC, Universitas Negeri Semarang, Sabtu (14/4/2018), Jokowi menanggapi santai pernyataan Romi soal tawaran cawapres untuk Prabowo.

Dalam sambutannya, sembari tertawa, Jokowi meminta Romi bertanggung jawab atas ulahnya.

Disindir Jokowi, Romi hanya menanggapinya dengan tertawa.

Upaya Jokowi menggandeng Prabowo sebagai cawapres juga dibenarkan oleh Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI-P Hendrawan Supratikno.

"Karena platform ke depan, persatuan nasional lebih penting dibanding siapa yang akan jadi Presiden. Itu sebabnya muncul salah satu pandangan seperti itu (memasangkan Jokowi dan Prabowo)," kata Hendrawan kepada Kompas.com, Sabtu (14/4/2018).

Ia mengatakan, upaya ini masih terus dilakukan oleh koalisi pengusung Jokowi di Pilpres 2019. Menurut Hendrawan, hingga saat ini belum ada keputusan final terkait hal tersebut sehingga segala peluangnya masih terbuka.

Hendrawan mengatakan, meski Prabowo menerima manda Gerindra, namun belum sampai tahap deklarasi capres.

Oleh karena itu, ia menilai, peluang bersatunya Jokowi dan Prabowo di Pemilu 2019 masih terbuka lebar.

Gerindra membenarkan

Petinggi Gerindra juga membenarkan tawaran Jokowi untuk Prabowo.

Wakil Sekjen Partai Gerindra Andre Rosiade menilai, Jokowi melakukan hal itu kaena takut kalah dari Prabowo.

Ia menegaskan, Prabowo langsung menolak tawaran tersebut. Andre membantah Prabowo pernah mengirimkan utusannya untuk menghadap Jokowi dan menanyakan kelanjutan tawaran tersebut.

Kesiapan Prabowo menerima mandat sebagai capres dinilai Andre bersifat final dan mengikat.

"Itu kan dongeng Romi saja. Kalau Pak Prabowo mau jadi cawapresnya Jokowi, tentu sudah diterima Pak Prabowo. Tidak mungkin Partai Gerindra deklarasi pencapresan Prabowo 11 April kemarin," kata Andre.

Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Sirojudin Abbas menilai, peluang bersatunya Jokowi dan Prabowo di Pemilu 2019 masih terbuka.

Hal itu ditandai dengan belum terbentuknya koalisi dari Gerindra untuk mengusung Prabowo sebagai capres. 

Menurut dia, jika Prabowo benar-benar menolak tawaran Jokowi, seharusnya tak perlu menunggu lebih lama untuk memastikan koalisi pengusungnya di Pemilu 2019.

"Kalau memang menolak tawaran Pak Jokowi kan mestinya Pak Prabowo langsung memastikan koalisinya bersama PKS dan PAN misalnya. Ini kan masih belum," kata Sirojudin saat dihubungi, Minggu (15/4/2018).

Sirojudin menilai, pernyataan Prabowo yang menerima mandat Gerindra untuk maju sebagai capres tak menjadi jaminan mantan Komandan Jenderal Kopassus itu tak merapat ke Jokowi.

Menurut dia, pernyataan Prabowo yang menerima mandat Gerindra hanya untuk menjaga soliditas dukungan suara dari para kader, simpatisan, dan pemilih Gerindra menjelang Pilkada 2018.

"Jadi masih terbuka selama koalisi dari pihak Pak Prabowo belum terbentuk," lanjut dia.

Penulis: Rakhmat Nur Hakim

Editor: Inggried Dwi Wedhaswary

Copyright Kompas.com

Source : https://www.msn.com/id-id/news/nasional/mungkinkah-duet-jokowi-prabowo/ar-AAvVqO8

Loading...
Mungkinkah Duet Jokowi-Prabowo?
Duet Jokowi-Prabowo, Mungkinkah Terjadi?
Soal Duet Jokowi-Prabowo, Idrus Marham Bilang "Gerindra Kan Sudah Deklarasi..."
Maruarar Yakin Duet Jokowi-Prabowo tak Akan Tertandingi
Sekjen PPP sebut Rommy dan Sandiaga juga bicarakan opsi duet Jokowi-Prabowo
Jokowi-Prabowo Duet, Sandi Uno Enggan Berandai-andai
Sandi Akui Duet Jokowi-Prabowo Sempat Disinggung di Gerindra
Soal Isu Prabowo Jadi Cawapres Jokowi, Siapa yang Bohong?
Romahurmuziy: Duet Jokowi-Prabowo Bisa Kurangi Ujaran Kebencian
Wacana duet Jokowi-Prabowo, PDIP terus komunikasi dengan Gerindra